Chance and Choice

13.30

"No one falls in love by choice, it's by chance. And no one falls out of love by chance, it's by choice."

Itulah sebuah kutipan kalimat yang saya ambil dari salah satu akun sosial motivator ternama di indonesia.
Sejenak, saya tertegun diam ketika membaca kalimat ini, entah mungkin dikarenakan saya mendapat feel arti dari kalimat diatas.
Kita seringkali berpikir, atau memang sudah tercipta dalam mind set kita, bahwa, jatuh cinta itu karena adanya pilihan untuk jatuh cinta terhadap seseorang. Kita jatuh cinta kepada seseorang, karena dia merupakan suatu pilihan yang harus saya ambil. berati ada kata "memilih" disini.
Memang, tidak bisa dianggap salah juga, karena setiap orang memiliki presepsi yang berbeda-beda tentang cinta dan bagaiaman kita jatuh cinta. Karena, saya pun awalnya juga berpikir demikian.

Tapi tidak untuk sekarang, saat ini, ketika saya kembali berfikir setelah membaca kutipan kalimat diatas. Saya merasa, benar. Dan apa yang saya alami sekarang, menurut saya, sangat mendukung statement diatas. hello?? mungkin sedikit gaya bahasa anak muda bisa meringankan cerita kali ini. hehe
Setelah saya berpikir, kenapa saya mencintai seseorang yang saat ini bersama saya, itu bukan karena saya memilih dia. Itu karena ada kesempatan saya untuk jatuh cinta kepada dia, orang yg saat ini masih bersama saya. Itulah kenapa, ada kalimat dimana menjelaskan ketika kita membina hubungan, jangan jadikan pasangan kita sebuah pilihan yang dibandingan dengan orang lain (pihak ketiga?).
Saya mencintai dia, karena kesempatan yang ada, dan saya memberikan dia kesempatan untuk masuk dalam kehidupan saya dengan saling berbagi cinta dan saling mengasihi.
Ketika kesempatan itu ada, dan ketika kita berfikir bahwa dia bukan suatu pilihan, akan ada perbedaan rasa yg terjadi. Jika kamu memandang, bahwa mencintai dia karena kalian memilih, disaat dia mengecewakan anda, akan ada timbul suatu rasa penyeselan mengapa kita memilih dia, dengan tanpa kita sadari.
Namun, ketika kita menganggap mencintai seseorang itu kita dapat karena kita diberi "kesempatan" utk merasakan jatuh cinta, ketika kekecewaan datang akan ada sebuah rasa dimana, "tidak apa-apa, saya harus menerima dia apa adanya, karena tidak ada yg sempurna, sembari menganggap ini sebuah proses utk sebuah hubungan", dan rasa itu yg juga akan mengeluarkan "kesempatan" utk memaafkan dan tetap berusaha mencintai dia dengan segala kekurangan nya. Dan karena masih diberikan kesempatan untuk tetap merasakan cinta bersama org tersebut.
Bayangkan, dikala sebuah "kesempatan" tidak ada lagi. Apa jadinya?

Beda hal nya, ketika kita pergi meninggalkan pasangan kita, atau pergi meninggalkan rasa cinta yg pernah kita miliki.
Kita pergi meninggalkan, bukan karena adanya kesempatan, tapi itu karena pilihan.
Kita sendiri yang memilih untuk meninggalkan atau tetap tinggal.
Dalam suatu hubungan, kesempatan untuk berselingkuh dan meninggalkan pasangan kita pasti ada, dan banyak. Tapi kembali lagi, itu kita yang memilih untuk meninggalkan atau tetap tinggal. Memilih untuk memeperbaiki hubungan yang sudah ada, atau pergi untuk menjalin hubungan yang baru.

Dan untuk bagaimana meninggalkan seseorang adalah sebuah pilihan, baru saya alami dalam keluarga saya. Rasanya ditinggalkan itu lebih dalam mungkin daripada yang meninggalkan.
Ditinggalkan seseorang yg anda kasihi, seseorang yg dulu mencintai dan mengasihi anda, untuk kehidupan yang baru, sangat teramat mengorek hati. Bahkan, karena terlalu sakit dan pedih rasanya, utk mengungkapkan nya dalam kata pun tak sanggup.
Tetapi inilah hidup. Anda memilih, meninggalkan kepedihan dan berusaha maju, atau tetap berlarut dalam kepedihan.
Memberi kesempatan untuk mencintai dan dicintai, atau tidak memberikan kesempatan sama sekali dan larut dalam kesendirian.

which one?
your live, your way...

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe